Tragedi Cinta
Hello! thanks for visiting my blog... The language used in this web are mixed english and Indonesian, if you don't understand bahasa Indonesia, you probably like to read all english content here. Enjoy your life!
Beberapa hari yang lalu di sebuah tayangan infotainment, berita mengenai ngototnya Tamara Blezynski untuk bercerai kembali diberitakan. Kali ini berita yang bukan kabar burung tersebut sudah mencapai tahap klarifikasi cabang gosip utama yaitu mengenai kelainan seksual (homoseksualitas) Tengku Rafly yang diduga menjadi alasan utama Tamara untuk membubarkan perkawinannya yang sudah berusia 8 tahun itu.
Kabar burung tersebut dibantah oleh kedua belah pihak melalui pengacaranya masing-masing. Pihak Tamara pun membantah telah mengungkapkan kabar burung tersebut. Jadi untuk sementara kabar burung tersebut mungkin hanya burung yang mengakui telah mengungkapkannya kepada publik.
Nah, saat nonton infotainment itu, gue jadi inget cerita Erwin tentang temennya yang curhat ke dia. Temennya ini perempuan yang sudah berkeluarga selama 5 tahun dan sedang dalam proses perceraian karena ternyata suaminya lebih mencintai pacarnya yang sesama jenis. Seperti yang diceritakan Erwin, perempuan ini hatinya hancur sehancur-hancurnya, sampai dia mengucap, “gimana gue mau bersaing kalo gini?!?”.
Bila gosip tentang Rafly itu benar, hancurnya hati Tamara mungkin lebih dahsyat karena perkawinannya sudah berumur 8 tahun dan telah membuahkan anak berusia 7 tahun. Tentunya ga gampang juga buat Tamara untuk menjelaskan kepada sang anak mengenai alasan perceraianya tersebut.
Gue kepikiran nilai Tamara yang begitu tinggi (cantik ruar biasa) dan dimenangkan oleh Rafly sehingga mereka menikah. Pasti Tamara cinta luar biasa sampai dia bisa memutuskan untuk menikah dengan Rafly. Setelah 8 tahun ternyata kisah itu merupakan kisah tragedi.
Tragedi lain
Beberapa bulan yang lalu terjadi satu lagi tragedi cinta disekitar gue. Sepasang insan yang gue kenal bubar pacaran karena perbedaan-perbedaan termasuk perbedaan fundamental. Meskipun mereka yakin masih saling menyayangi (bahkan sempat meyakini bahwa mereka adalah soulmate) tapi si cowo memutuskan untuk meninggalkan si cewe tapi tetap menunjukkan rasa sayang nya seperti layaknya seorang kakak kepada adik.
Si cewe menerima keputusan itu dengan sangat berat, mengingat keceriaan dan kesedihan yang dialami bersama selama kurang lebih dua tahun. Tapi demi menghormati keputusan tersebut dia juga merelakan untuk mengurangi secara drastis komunikasinya dengan sang mantan.
Terus tragedi nya di mana?
Si cowo itu sudah ga perjaka pada waktu mereka pacaran sementara si cewe masih gadis murni, dan berniat mempertahankannya hingga malam pertama dengan suaminya kelak. Seperti pada umumnya laki yang sudah ga perjaka, si cowo pun pastinya sudah pernah mengutarakan harapannya untuk berhubungan badan dengan pacarnya namun karena sang kekasih begitu teguh, maka dia juga menghormatinya hingga akhirnya usai setelah dua tahun lebih. Si cowo setia selama berpacaran.
Tragedi seperti dicurhatkan oleh si cowo, terjadi ketika si cewe menelepon mantannya pada suatu malam, dimulai dari menanyakan kabar dan kemudian mulai menangis, hingga sampai pada klimaksnya si cewe menceritakan bahwa dia melepas keperawanannya pada seseorang yang mulai dekat padanya tak lama setelah mereka bubaran.
Bisa dikira-kira lah ya… saat itu si cowo keki setengah mati, dan menyatakan tidak akan pernah balik lagi sama mantannya. Meskipun si cewe sebenarnya dalam telepon itu juga curhat bahwa dia menyerahkan keperawanannya tanpa ikatan apa-apa dan dia diperlakukan kurang baik.
Gue ngebayangin pasti emosi yang berkecamuk dalam kedua mantan pasangan pada saat itu bercampur aduk dan tertahan-tahan di mana-mana. Setelah beberapa minggu dari telepon tragedi itupun, nuansa dukanya masih kental. Cerita yang gue denger terakhir, mereka bertelepon ria diwarnai dengan tangisan-tangisan si cewe menyesali tindakannya… dia sulit menerima tindakannya sendiri dan merasa bahwa sepanjang hidupnya akan terus dihantui dengan perasaan bersalah… sepertinya berat sekali…
Berat mana diantara dua tragedi di atas? gue sempet mikir bahwa hari gini cowo juga ga begitu menuntut virginitas, jadi tentunya si cewe itu akan pulih dalam waktu yang ga begitu lama… tapi yang dialami Tamara merupakan trauma hebat yang bisa bikin dia ga akan gampang percaya sama pria selama sisa hidupnya… tapi gue juga sempet mikir sebaliknya…
Pada suatu kali gue diskusi tentang tragedi cinta dengan seorang sahabat, dengan mengangkat tragedi-tragedi cinta yang terjadi pada temen-temen kita. Ada yang sudah pacaran luaamaa banget, taunya nikahnya sama yang lain yang hanya pacaran beberapa bulan, yang tentunya meninggalkan luka yang dalam. Kita juga diskusi kelakuan bad boys dan nice boys. Lucunya waktu itu kita berkesimpulan garisnya tipis sekali antara bajingan sama gentlemen.
Terus pada ketika gue tanya sohib gue ini, kalau tragedi cinta menimpanya kira-kira apa yang akan dia lakukan? Dia bilang, “kalo gue tau gue bakal sakit, gue rusak tuh cewe (perawanin) atau ga jadian sama sekali”.
It is good to be bad or it will be disaster if you nice ? ? ? <<=== kok kayak machiavelli yah…
Any comment?






December 14th, 2005 at 6:18 am
hmm, menurut saya pak pico…gak pernah ada kesalahan kalau kita jadi orang baik ( walau ternyata banyak banyak banget orang baik yang ketimpuk masalah gede gara2″ baik soal cinta”) tapi yang menilai kebaikan yang sebenarnya itu Tuhan bukan? dan cinta yang sesungguhnya itu diciptakan bukan untuk merusak.lagian urusan “rusak-merusak” itu mah cuma urusan nafsu.(by dina yang laggee so’ wise)hihihihih