Kartini dan Feminisme
Thursday, April 20th, 2006Hello! thanks for visiting my blog... The language used in this web are mixed english and Indonesian, if you don't understand bahasa Indonesia, you probably like to read all english content here. Enjoy your life!
“malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis, erang dan rintih orang-orang di sekelilingku. Dan lebih keras daripada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain! Kerja! Kerja! Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku…”
(surat Kartini kepada Nyonya Abedanon, 8 April 1902; diambil dari buku “Panggil aku Kartini, Pramoedya Ananta Toer, 1997; disampaikan dalam makalah Sri Palupi dalam seminar Perempuan Indonesia: Kiprah dan Tantangannya, 20 April 2006, IKA FISIP UNPAR)
***
Apa yang anda ketahui tentang Kartini, selain memperingati hari ulang tahunnya setiap tahun di sekolah dengan memakai pakaian tradisional atau dari judul buku kumpulan surat-suratnya “habis gelap terbitlah terang”?
Terus terang saya tidak begitu mengenalnya sampai saya lihat di tv sebuah liputan dokumenter mengenang RA Kartini.. Sedikit saja informasi yang saya bisa rekam dari acara itu, tapi sangat cukup untuk memahami betapa Kartini adalah seorang pejuang yang sangat gigih pada masanya. Seorang putri ningrat jawa yang menjadi selir penguasa daerah, yang sempat mencicipi sekolah di mana sesuatu yang tidak mungkin bagi kaumnya pada masa itu.
Memahami Kartini dan perjuangannya tidaklah mungkin tanpa memahami konteks budaya yang terjadi pada masa itu.
Kartini menolak dipanggil menggunakan gelar Raden Ajeng yang merupakan symbol feodalisme Jawa, yang tentunya mendapat tentangan berat dari keluarga maupun kaum ningrat. Pandangan Kartini sangat barat menurut Pramoedya Ananta Toer, yang mengaguminya terutama perjuangannya mendirikan sekolah di mana saat itu untuk bersekolah saja susah apalagi mendirikan sekolah yang lebih non diskriminatif.
Sebagai seorang istri (istri kedua) penguasa pada waktu itu, Kartini telah melaksanakan kompromi terhadap nilai-nilai budaya Jawa di mana dia hidup dan bernafas setiap harinya. Dijodohkan, dan menerima poligami. Terbayangkah oleh kita saat ini betapa dia menerima itu sebagai sebuah pengabdian? Terbayang oleh saya sebuah hati yang teraniaya. ?
Kutipan di atas menurutku sangat menggambarkan jiwa perjuangan Kartini, dan membuat kekaguman saya terhadapnya makin besar.***
(more…)






