Home > nothin but love, perspectives > Kartini dan Feminisme

Kartini dan Feminisme

RA Kartini“malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis, erang dan rintih orang-orang di sekelilingku. Dan lebih keras daripada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain! Kerja! Kerja! Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku”

(surat Kartini kepada Nyonya Abedanon, 8 April 1902; diambil dari buku “Panggil aku Kartini”, Pramoedya Ananta Toer, 1997; disampaikan dalam makalah Sri Palupi dalam seminar Perempuan Indonesia: Kiprah dan Tantangannya, 20 April 2006, IKA FISIP UNPAR)


***
Apa yang anda ketahui tentang Kartini, selain memperingati hari ulang tahunnya setiap tahun di sekolah dengan memakai pakaian tradisional atau dari judul buku kumpulan surat-suratnya “habis gelap terbitlah terang“?
Terus terang saya tidak begitu mengenalnya sampai saya lihat di tv sebuah liputan dokumenter mengenang RA Kartini.. Sedikit saja informasi yang saya bisa rekam dari acara itu, tapi sangat cukup untuk memahami betapa Kartini adalah seorang pejuang yang sangat gigih pada masanya. Seorang putri ningrat jawa yang menjadi selir penguasa daerah, yang sempat mencicipi sekolah di mana sesuatu yang tidak mungkin bagi kaumnya pada masa itu.
Memahami Kartini dan perjuangannya tidaklah mungkin tanpa memahami konteks budaya yang terjadi pada masa itu.
Kartini menolak dipanggil menggunakan gelar Raden Ajeng yang merupakan symbol feodalisme Jawa, yang tentunya mendapat tentangan berat dari keluarga maupun kaum ningrat. Pandangan Kartini sangat barat menurut Pramoedya Ananta Toer, yang mengaguminya terutama perjuangannya mendirikan sekolah di mana saat itu untuk bersekolah saja susah apalagi mendirikan sekolah yang lebih non diskriminatif.
Sebagai seorang istri (istri kedua) penguasa pada waktu itu, Kartini telah melaksanakan kompromi terhadap nilai-nilai budaya Jawa di mana dia hidup dan bernafas setiap harinya. Dijodohkan, dan menerima poligami. Terbayangkah oleh kita saat ini betapa dia menerima itu sebagai sebuah pengabdian? Terbayang oleh saya sebuah hati yang teraniaya. ?
Kutipan di atas menurutku sangat menggambarkan jiwa perjuangan Kartini, dan membuat kekaguman saya terhadapnya makin besar.

***
Seminar Perempuan Indonesia: Kiprah dan Tantangannya

Pada tgl. 20 April yang lalu diadakan seminar “perempuan Indonesia: Kiprah dan Tantangannya” oleh IKA Fisip Unpar di hotel Sahid. Hadir sebagai pembicara: Ratna Barata Munti (LSM), Sri palupi (LSM), Angelina Sondakh (Anggota DPR) dan Dewi Lestari (Penulis Novel, Penyanyi). Dimoderatori oleh Deny Project-P dan Ghazali dari Republik BBM, acara seminar itu menjadi sangat jauh dari membosankan. Banyolan konyol yang selalu keluar dari dua moderator ini banyak menjadi tantangan bagi nilai-nilai mengenai perempuan hari ini, baik itu sisi tradisional maupun sisi perjuangannya.

Singkat saja saya lukiskan mengenai isi seminar yang saya tidak ikuti sampai selesai. Ratna Barata Munti menceritakan mengenai kondisi perempuan Indonesia hari ini serta perjuangannya. Ceritanya banyak membuka wawasan mengenai kondisi perlakuan hukum terhadap kaum perempuan dan diskriminasi lainnya.
Pada sesi pembicara Sri Palupi, saya keluar ruangan untuk merokok tentunya karena asem ditambah bahasan yang kurang menarik karena terlalu luas (mengangkat isu ketimpangan global). What can I say? She didn’t interest me at all. The globalism was my study and she told what I’ve learned a decade ago.
Mantan Putri Indonesia yang sekarang duduk di kursi parlemen Indonesia juga tidak begitu menarik bahasannya, sebab mbak Angel ini berusaha untuk mendudukan atau memposisikan perjuangan emansipasi secara proporsional sementara dua pembicara sebelumnya sangatlah menyorot ketidakadilan yang bersumber pada dominasi kaum maskulin, dan kemungkinan besar yang hadir pada event itu ingin mendengarkan bentuk kiprah yang lebih baik dari perempuan Indonesia masa kini.
Bahasan yang paling menarik dan patut diacungi jempol siang itu adalah dari Dewi Lestari atau yang sering dipanggil Dee. Bukan karena dia adalah teman sekampusku, atau karena saat ini kami menjalin kerjasama, tetapi lebih karena keberaniannya dan karena orisinalitas pemikirannya.

***
Milenium berkarakter feminim

Dewi, yang waktu bicara nya jadi kepepet karena pembahasan sebelumnya agak berlebih waktunya, sempat menyatakan preferensinya untuk coffee break sebelum bagian nya untuk bicara. Tapi karena permintaan panitia dan para hadirin, Dewi akhirnya setuju menunda ngopi dan melaksanakan tugasnya memaparkan pemikirannya.
Esotherism (kalau saya ga salah denger, tebakan spellingnya demikianlah) adalah sesuatu yang belakangan dipelajari oleh Dewi, mengenai pengaruh makro kosmos dan sejenisnya (mirip dengan astrologi) yang menjelaskan mengenai dominasi pengaruh maskulin dan feminim yang berganti setiap 1000 tahun. Sebenarnya perhitungan tersebut juga mirip dengan astrologi yang siklusnya 100 tahun dan shio yang siklusnya 800 tahun. Menurutnya saat ini kita sudah masuk ke dalam millennium yang didominasi oleh pengaruh feminim. Dominasi tersebut dapat terlihat dari kecenderungan untuk lebih feminim dalam tindakan dan sikap, seperti bila pada millennium maskulin kita cenderung untuk konflik, pada millennium ini kita cenderung memilih negosiasi. Kecenderungan yang terlihat lainnya adalah lebih dekatnya manusia pada alam, karena alam seperti sudah makin marah.
Millenium feminim disebut juga sebagai “awakening state” sedangkan millennium sebelumnya disebut “the sleeping state”. Zaman feminim tidak selalu berarti kaum perempuan berkuasa, tetapi lebih kepada manusia bertindak lebih feminim sedangkan pada milenium sebelumnya manusia, baik itu perempuan maupun pria sangat dipengaruhi oleh karakter maskulin dalam tindakanya. Mungkin hal ini juga menjelaskan bahwa semangat Kartini adalah semangat perjuangan yang merupakan domain dari sifat maskulin hanya saja terbungkus dalam jiwa seorang perempuan.
Kesadaran akan milenium feminim ini mengantar kita terhadap pemahaman tindakan kita sehari-hari, apakah benar kita lebih feminim hari ini? Bila saat ini kita lihat begitu banyaknya laki-laki yang bersolek, mungkin kita akan memahami. Bagaimana dengan laki-laki yang patah hati (cenderung cengeng bila dilihat dari kacamata laki-laki)? Mungkin itu karakter yang mungkin cenderung negatif,. Bagaimana dengan karakter positifnya? Ya, pastilah lebih menghargai kehidupan dengan sifat-sifat merawat, melestarikan, mengarahkan kreatifitas untuk keindahan dan seterusnya.

***
Cowok feminim dan lesbian

Bagian ini adalah pemikiran aneh dan lucu yang sempat muncul dalam benak saya. Kesadaran feminisme mengantar saya untuk mengeksplorasi beberapa pribadi sample (imajinatif) pria yang lebih feminim, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pembuktian sifat feminim dalam diri mereka. Dan ternyata beberapa dari mereka mendapatkan score besar ke arah lebih feminim. Permasalahannya kemudian adalah ternyata pria-pria itu lebih suka perempuan sebagai pasangan. Mereka seperti perempuan yang terkurung dalam raga pria tapi memilih perempuan sebagai pasangan hidupnya.
Apakah mereka lesbian? Hehehe…

Bagaimana dengan anda?

***

Hormat saya terhadap almarhum bapak Pramoedya Ananta Toer, terutama atas penulisan empat jilid buku mengenai Kartini (hanya dua yang diterbitkan, sisanya ikut dimusnahkan oleh pemerintah orde baru).

Permohonan maaf saya terhadap beliau dan keluarganya atas prasangka kurang baik hanya karena fans Pramoedya yang kurang apresiatif membawakan pemikiran-pemikiran beliau.

Share it:
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Digg
  • Facebook
  • TwitThis
  • MySpace
Categories: nothin but love, perspectives Tags:
blog comments powered by Disqus